Obsesi Guru

MEMBERIKAN YANG TERBAIK UNTUK ANAK MERUPAKAN OBSESI SETIAP GURU

Oleh : Drs. Suhardi M.Pd

Kepala Sekolah SMP 2 parengan, Tuban, Jawa Timur

Kata guru di dalam bahasa jawa merupakan kependekan dari “ yang digugu dan ditiru”, yang artinya “yang dipatuhi dan dicontoh atau diteladani”, sehingga sebagai seorang guru sudah menjadi kewajiban kita memberikan pengetahuan dan contoh-contoh yang bagus kepada anak didik, tetapi ada beberapa hal yang patut kita renungkan kembali, Apakah kita telah memberikan yang terbaik?, Apakah kita telah memiliki sesuatu yang terbaik?, Atau yang terbaik itu sebatas impian?.

Jika kita buka secara menyeluruh, memberikan sesuatu adalah sebatas yang kita punya, kita tidak mungkin memberikan sesuatu yang tidak kita miliki. Artinya, jika seseorang ingin memberikan yang terbaik maka yang dimiliki harus yang terbaik pula. Dalam kajian ini jika semua guru mempunyai obsesi memberikan yang terbaik untuk siswanya maka langkah awal yang harus ditempuh adalah membuat dirinya baik dan berupaya sebaik mungkin.

Kondisi aktual

Guru selama ini dipandang sebagai SDM nomor dua, mungkin lebih buruk lagi, harus segera berbenah untuk berubah. Pertama, paradigma guru yang apriori terhadap perkembangan zaman, akibatnya tidak sedikit guru yang saat ini masih ketinggalan zaman, baik secara pengetahuan maupun teknologi. Kedua, kebutuhan guru yang amat besar meng­haruskan pihak penyedia tenaga pendidik kurang selektif, dan karena dikejar waktu, sehingga ada program cepat D1, D2 dan belum lagi sekolah swasta yang menyediakan jasa kuliah cepat dan murah, tetapi mengabaikan kwalitas yang jauh lebih penting. Ketiga,  PP no 48 yang terbit telah mengakomodir adanya recruitment CPNS khususnya guru melalui SK honorer tanpa memperdulikan kompetensi sedikitpun, sehingga hal ini tentu sangat merugikan  bangsa.

Perubahan paradigma

Mind set guru : sebuah perubahan bisa berjalan jika dimulai dari perubahan paradigma. Hal yang perlu dilakukan antara lain, Pertama : guru harus kreatif, dinamis dan mengikuti perkembangan zaman. Pendapat public telah terlanjur memandang guru sebagai kelas dua sitinjau dari segi recruitment, pengembangan dan pembibitan SDM sehingga hasil pendidikan yang kurang baik cenderung dibebankan pada indicator guru. Belum lagi ditambah dengan buruknya lembaga yang menghasilkan guru serta recruitment yang didasarkan pengabdian belaka ikut memperburuk citra dan kwalitas guru.

Kedua : guru harus visioner, memiliki jangkauan kedepan, sebab pemimpin dunia ini gurulah yang memiliki lisensi untuk mempersiapkan, membekali dan mengantar mereka. Lebih dari itu suara guru bagai suara Tuhan yang selalu ditaati dan dicontoh anak didiknya. Maka guru memiliki peran amat sangat penting dalam penyiapan SDM kedepan.

Tugas Guru

Profesi  guru jika dipandang secara sempit mungkin sekedar mencari sesuap nasi seperti halnya profesi lainya, tetapi lebih dari itu guru mempunyai  tanggung jawab moral yang amat berat dan dasyat. Guru  tidak sekedar mengajar tetapi juga mendidik, melatih dan meng­antar­kan anak didik menjadi dewasa. Guru harus member contoh, orang bijak berkata: murid tidak akan melakukan apa yang dikatakan guru, tetapi murit akan melakukan apa yang dilakukan oleh guru.

Guru harus selalu memberi  contoh yang terbaik, membimbing yang terbaik,bertutur kata yang terbaik, juga melatih yang terbaik. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana akan member yang terbaik jika kita sendiri tidak baik, guru yang mempunyai nama besar dan mulia harus di implementasikan dalam kehidupan dan bukan sekedar nama tapi nyata.

Apa yang harus kita dilakukan?

Guru sudah tidak ada waktu lagi untuk bermalas-malasan, kita harus mengubur masa lalu atas semua opini tentang guru, mengubur pola pikir kita yang lama dengan kerja keras untuk menjadi yang terbaik. Jika obsesi kita memberi yang terbaik, sedangkan manusia memberi sebatas yang dimiliki, maka kita tidak mungkin memberikan sesuatu yang terbaik jika yang kita miliki sementara tidak baik. Artinya saat ini guru harus berlomba memoperbaiki paradigma, kemampuan dan teknologi serta memperbaiki kinerja SDM yang kurang optimal, lembaga yang kurang berkwalitas serta recruitment yang kurang menjamin mutu. Semua sudah berlalu, yang sudah biarlah sudah, yang lalu biarlah berlalu, tetapi kedepan guru yang ada harus bangkit dengan penuh motifasi, kreasi dan dedikasi sehingga obsesi memberikan yang terbaik untuk anak bangsa ini bisa terwujud. Guru adalah tuntunan dan bukan tontonan, guru adalah panutan dan bukan lelucon yang di tertawakan.

“learning by doing”

Image and video hosting by TinyPic

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: