Becoming the winner

Tanpa kita sadari, melakukan penelitian adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, dari melakukanpenelitian yang sangat sederhana, nenek moyang kita mampu mengidentifikasi jenis jamur yang dapat di makan dan yang tidak dapat dimakan, sampai yang cukup canggih yaitu membaca letak bintang untuk prediksi musim,

di negara-negara maju yang sistem pendidikanya maju, penelitian dilakukan sejak dini yaitu sejak duduk di bangku sekolah dasar. Para siswa diberi tugas mengumpulkan daun-daun kerung pada saat musim gugur tiba. Tugas sederhana ini dapat dipakai sebagai latihan penelitian yang berakhir dengan sebuah kesimpulan yaitu daun kering yang dibakar dapat menghasilkan abu, dapat ditempel pada kertas sebagai hiasan, dan dapat dipendam dalam tanah sebagai pupuk.

kalau melihat sekolah dilingkungan kita, latihan meneliti sederhana seperti digambarkan pada paragraf ke dua belum tersentuh atau belum terpikirkan.” saya menyekolahkan anak saya ke sekolah faforit ini dengan membayar mahal bukan dididik menjadi pengumpul daun kering, tetapi saya menginginkan anak saya pintar agar menjadi indinyur”, kata sebagian besar orang tua murid dengan semangat pragmatis. Dari kondisi seperti ini managemen sekolah melayani permintaan orang tua dengan membekali materi sebanyak mungkin dan seberat mungkin kepada siswa dengan semangat pragmatik juga. dari kondisi ini sering terjadi obrolan kampung,”anak disuguhi materi yang sangat berat untuk mengejar mutu pendidikan”, yang sering diterjemahkan oleh sebagian prang semangat ujian Nasional(UN).

ada korelasi real antara UN dengan mutu pendidikan dan cita-cita, kata sebagian bersar kepala sekolah dengan segala hipotesisnya, sehingga sudah menjadi pemahaman bersama bahwa yang dikatakan sekolah yang berprestasi adalah sekolah yang paling banyak muridnya dan berhasil mencapai nilai UN tertinggi. Tentang kratifiti,  inovasi,  kemandirian, kerjasama, tanggung jawah dan moral yang seharusnya menjadi komponen terpenting dari aktiviti tumbuh-kembang anak menjadi urusan nomor belakang.

banyak instansi pendidikan yang berlomba-lomba menyelenggarakan pendidikan dengan semangat prakmatik dan biaya yang luar biasa mahal. sehingga banyak anak yang nerpotensi tetapi tidak dapat melanjutkan sekolah..

bersambung……….

(Prof. Dr.Imam Robandi, MT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: