TOLERANSI YANG DIAJARKAN OLEH NABI

Saudaraku yang dimuliakan Alloh,

Ada istilah yang kita sering dari kita dengar,  yakni toleransi. Tashaamukh itu dalam bahasa agama. Toleransi adalah batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih dapat diterima. Toleransi adalah penyimpangan dari yang tadinya harus dilakukan, penyimpangan yang dapat dibenarkan.

Saudara…, mengapa manusia harus bertoleransi?

Agama menyatakan manusia adalah makhluk social, pasti berbeda-beda, itu bukan saja sebuah keniscayaan tetapi juga merupakan kebutuhan, tetapi dalam saat yang sama, tuhan menghendaki juga agar kita bersama, bersama dengan tuhan dan bersama dengan seluruh manusia,  karena kita semua  pada dasarnya berasal dari ayah dan ibu yang sama.

Keniscayaan perbedaan dan keharusan persatuuan itulah, yang mengantar manusia harus bertoleransi. Sekali lagi kita bertanya ….

mengapa harus bertoleransi?….

karena semua manusia mendambakan kedamaian. Tanpa toleransi tidak mungkin ada kedamaian. Semua kita mendambakan kemaslahatan, tanpa toleransi tidak akan ada kemaslahatan. Semua kita menginginkan kemajuan, tanpa toleransi kemajuan tidak dapat dicapai. Dari sini agama-pun memberikan toleransi, bukan saja dalam kehidupan kemasyarakatan tetapi juga dalam kehidupan beragama.

Saudaraku, mari kita belajar dari bebrapa contoh dari ayat-ayat alquran bahkan dari sejarah nabi Muhammad, melihat bagaimana tingginya toleransi beliau, bagaimana tingginya toleransi yang diajarkan oleh alquran guna menghadirkan kedamaian dan kesejahteraan, bukan hanya untuk umat islam tetapi bagi seluruh masyarakat non islam, bahkan untuk seluruh umat manusia.

Saudaraku, kita katakan bahwa Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa, “Aku diutus untuk membawa agama yang penuh dengan toleransi”. Ketika terjadi perjanjian Hudaibiah, menulis perjanjian itu, dalam konsepnya, Nabi SAW menyatakan ,”bismillahirrokhmaanirohim” , oleh kaum musyrik, kalimat basmalah itu meraka tidak setujui, meraka meminta agar ditulis “bismika allohumma”, Seru Nabi kepada Ali bin abi tholib,  “Hapus basmallah dan tulis bismikallohumma, sesuai usul meraka”. Nabi menyusun menyatakan, “Inilah perjanjian antara Muhammad Rosullulloh dan wakil dari Kaum Musyrik Mekah’, Pemimpin delegasi kaum musyrik berkata, “seandainya kami mengakui engkau sebagai rosul Alloh, maka kami tidak akan memerangimu”,  tulis “Inilah perjanjian antara Muhammad putra abdulloh”. Rosulpun berkata: “Hapus kata Rosullulloh dan ganti dengan Muhammad putra abdulloh”. Syidina Ali dan para sahabat tidak ingin bertoleransi dalam hal ini, meraka enggan menghapusnya, tetapi Nabi,  yang penuh dengan toleransi itu, menghapus tujuh kata itu demi kemaslahatan, demi perdamaian.

Saudara….. Kita memang tidak boleh mengorbankan akidah demi toleransi, tetapi pada saat yang sama kita tidak boleh mengorbankan toleransi atas nama akidah. Kita perlu bertoleransi, karena itu sekian banyak ayat-ayat alquran yang berbicara atau mnganjurkan kita menerapkan toleransi itu. Bacalah surat Saba’ ayat 25 dan 26 anda akan menemukan disitu.
qul laa tus-aluuna ‘ammaa ajramnaa walaa nus-alu ‘ammaa ta’maluuna

25. Katakanlah: “Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat”.
qul yajma’u baynanaa rabbunaa tsumma yaftahu baynanaa bialhaqqi wahuwa alfattaahu al’aliimu

26. Katakanlah: “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui”.

Nabi SAW diajarkan untuk menyampaikan kepada  kaum musyrik, kepada non muslim, bahwa kami atau anda yang berada pada kebenaran atau kesesatan yang nyata, yakni boleh jadi kami yang benar, boleh jadi kami yang salah , tetapi nanti Alloh akan menghimpun kita, dan dialah yang akan member putusan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ini bukan berarti bahwa kita mengorbankan akidah dengan berkata bahwa kita salah, tetapi demi kehidupan bermasyarakat yang penuh kedamaian jangan mempersalahkan orang, katakanlah boleh jadi anda benar, boleh jadi juga anda salah

Prof. Quraish Syihab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: